Pidato Dedi Mulyadi dalam Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-78 Kabupaten Subang menekankan pentingnya transformasi lingkungan dan mentalitas birokrasi. Oleh karena itu, tantangan tata kota seperti kemacetan kontainer dan sampah ilegal menjadi sorotan utama demi mewujudkan Subang yang bersih dan nyaman sebagai syarat pertumbuhan ekonomi.
Kritik Tata Kota dan Keberanian Pemimpin
Dedi Mulyadi menyoroti persoalan estetika wilayah yang terganggu oleh aktivitas kendaraan besar dan tumpukan tanah ilegal. Beliau menegaskan bahwa kemajuan daerah harus dimulai dari lingkungan yang tertata rapi.
Pemimpin daerah juga diingatkan untuk tidak bersikap normatif atau sekadar “cari aman”. Sebaliknya, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Reformasi Birokrasi dan Visi Pariwisata
Birokrasi di Kabupaten Subang didorong untuk meninggalkan pola kerja yang hanya bersifat seremonial atau administratif. Selanjutnya, ASN harus fokus pada hasil konkret agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah melalui pelayanan publik yang profesional.
Terkait sektor pariwisata, KDM menegaskan bahwa hal tersebut merupakan dampak dari penataan kota yang baik, bukan tujuan utama yang harus dipromosikan secara paksa. Kemudian, pembangunan daerah wajib berbasis pada sejarah dan semangat lokal seperti kisah Rangga Wulung dan Subang Larang.
Perubahan Mental Menuju Subang “Ngabret”
Secara keseluruhan, pidato ini merupakan ajakan bagi seluruh elemen di Subang untuk melakukan perubahan pola pikir secara masif. Kinerja yang konkret dan terukur menjadi kunci untuk mewujudkan visi Subang yang maju dan kompetitif.







