Beranda Berita Subang 56 Negara Buka Peluang, BP2MI Gandeng Yayasan dan Lembaga Pendidikan

56 Negara Buka Peluang, BP2MI Gandeng Yayasan dan Lembaga Pendidikan

8e42c774b59607016db4f4852455a552.jpg

KBRN, Bandung: Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjalin kerjasama dengan yayasan pendidikan dan perguruan tinggi swasta, dalam penempatan pekerja migran Indonesia di luar negeri. 

Kepala BP2MI Benny Rhamdani mengatakan, selain guna melindungi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di negara penempatan, kerjasama itu juga membantu calon pekerja migran agar tidak mendapat hambatan maupun kesulitan khususnya masalah pembiayaan. Bahkan menurut Benny, negara siap memberikan modal bekerja kepada calon PMI.

“Kita sudah tandatangani MoU dan PKS dengan enam yayasan dan lima perguruan tinggi. Penandatanganan ini adalah perjanjian di mana kita akan bersinergi dan berkolaborasi dalam hal penempatan calon pekerja migran ke calon penempatan dan tentu yang disiapkan para pekerja yang bisa dikategorikan terampil dan profesional,”ucap Benny usai penandatangan perjanjian di Transluxury Hotel Kota Bandung, Kamis (16/9/2021).

Dijelaskannya, pada pandemi Covid-19 saat ini, ada 56 negara yang membuka peluang pekerja migran Indonesia, terkecuali Taiwan dan Korea yang masih menutup akibat pandemi. Pihaknya juga ingin menyakinkan kepada anak bangsa, peluang bekerja di luar negeri sangat terbuka lebar.

BACA JUGA:  KKSS Kota Bogor Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor

“Tidak boleh kalah dengan pekerja Filipina. Peluang kerja di luar negeri sangat terbuka lebar. Kita ingin meyakinkan kepada anak-anak bangsa kesempatan itu harus ditangkap sebagai peluang dan tidak boleh lagi berpikir seolah-olah kalau kita ingin bekerja ke luar negeri, mereka (calon pekerja migran) akan menemukan hambatan dan kesulitan. Negara akan memfasilitasi bahkan modal bekerja pun tadi disampaikan ini disiapkan oleh negara,”tegas Benny.

“Jadi tidak boleh lagi untuk mewujudkan mimpi mereka harus terkendala karena tidak memiliki uang untuk modal bekerja dan terpaksa mereka meminjam ke rentenir, menjual harta benda milik keluarga. Tidak boleh lagi itu menjadi kendala. Negara akan fasilitasi dan memberikan kemudahan anak-anak bangsa untuk menangkap peluang kerja di luar negeri,”tambah dia.

BACA JUGA:  Cahaya Raudhah Carter 1 Pesawat Berangkatkan Jamaah Umrah Asal Subang

Benny juga menilai, kolaborasi dengan yayasan pendidikan maupun perguruan tinggi swasta sangat penting. Selain nantinya para calon pekerja migran mendapat kan keahlian dan bisa dikategorikan memenuhi kualifikasi kompetensi, juga dapat bersaing dengan negara lain.

Selain itu, tingginya angka pengangguran di masa pandemi, peluang besar pekerja migran Indonesia itu dapat menjadi salah satu solusi agar tidak menjadi penambahan angka pengangguran. BP2MI diungkap Benny, menempatkan 207 ribu pekerja migran Indonesia setiap tahunnya.

” Mungkin penempatan ini bisa dijadikan solusi agar tidak terjadi penambahan angka pengangguran di dalam negeri dengan cara penempatan di luar negeri yang tata kelola nya itu harus dipersiapkan.  Negara dalam hal ini BP2MI, yang sekali lagi butuh kerjasama dengan yayasan dan lembaga pendidikan,”ujar dia.

Sementara Rektor ITB STIKOM Bali Dadang Hermawan menyambut baik adanya kerjasama lembaga pendidikan dengan BP2MI dalam penempatan calon pekerja migran Indonesia. Dikatakan dia, kolaborsi tersebut sekaligus meyakinkan perlindungan bagi calon pekerja migran Indonesia.

BACA JUGA:  Kang Akur Hadiri FGD Pendampingan Satuan Penangan Covid-19 di Jawa-Bali

“Ini suatu kolaborasi yang ditunggu-tunggu. Karena kan selama ini berjalan sendiri-sendiri, pendidikan tinggi berjalan sendiri, kemudian tenaga kerja berjalan sendiri. Dengan adanya’ kolaborasi inkan menjadi adanya kekuatan,”ucap dia.

Dadang juga menyatakan program penempatan tenaga migran Indonesia di lembaga pendidikannya sudah berjalan. Sedikitnya 200 orang PMI kini sudah ditempatkan di Jepang.

“Yang di Jepang ada 14 sektor, ada informatika, ada perawat, macam-macam teknik dan sebagainya,”ucap dia.

“Jadi satu tahun ditempat kami di perguruan tinggi. Tiga tahun sambil bekerja di sana (luar negeri) sambil (kuliah) online. Pulang ke sini sudah dapat segalanya. Uang dapat, pengalaman dapat, jaringan internasional dapat, wawasan internasional dapat. Ini sudah segalanya,”ujar dia.